IWOSUMBAR.COM, PADANG – Dampak sampah menjadi persoalan ditengah kota dan bagaimana meminalisir sampah tersebut menjadi bahan baku yang berdampak ekonomi bagi masyarakat.
Bahkan dikataan hampir sekitar 2000 anak sungai di Provinsi Sumatera Barat sudah tercemar. Saatnya kini merubah perilaku dengan menjadikan sampah bernilai ekonomi.
Hal itu dibahas dalam diskusi oleh pegiat dari beberapa lingkungan dan pendaur ulang sampah kota Padang bersama Walikota Metro Lampung, H Wahdi dihadiri beberapa awak media di sebuah Cafe Padang, Minggu (7/8/2022).
Diawal diskusi Walikota Metro Lampung, H Wahdi mengatakan, permasalahan sampah sebenarnya bisa diatasi jika saja perilaku peduli terhadap sampah di lingkungan sekitar.
Sampah juga bisa jadi bagian dari keberlanjutan hidup manusia, yaitu dengan cara pengelolaan sampah yang ada di lingkungan bisa menjadi nilai ekonomi.
Walikota lampung ini menekankan, bahwa Sekarang yang sangat penting adalah bagaimana kita bisa merubah persepsi dan perilaku manusia memperlakukan terhadap sampah yang ada di sekitar.
“Yaitu dimulai dengan diri sendiri. Saya kalau ada orang nampak buang sampah sembarangan langsung saya pungut, “ujarnya. Jadi tantangan kita bagaimana kita bisa mengelola sampah menjadi ekonomi sirkulasi, ujarnya.
Hal tersebut menjadi tujuan dari Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu pembangunan yang menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan. Menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat yang inklusif serta terlaksananya tata kelola, menjaga kualitas peningkatan kehidupan dari generasi ke generasi berikutnya.
Diskusi berjalan hangat dengan saling tanya jawab dimoderatori oleh Yayan (Coca-Cola Europasific Partner) dengan narasumber dari Wartawan Nazir Fahmi, Akademisi Unand Dr. Yosi, Yose, dan Emma organisasi daur ulang sampah.
Nazir Fahmi mengatakan, kota padang setiap harinya menghasilkan bisa sebanyak 650 ton sampah. Dengan adanya cara bagaimana sampah bisa menjadi ekonomi sirkular tentunya juga menjadi perhatian bagi media di Kota Padang.
“Setidaknya kita kedepan akan memberitakan tentang sampah, bagaimana bisa bermanfaat dan menjadikan nilai ekonomi, ” ujarnya .
Nazir berharap kedepan di Kota Padang ada Bank Sampah yang bisa mengubah perekonomian, bahkan setiap OPD ada Bank Sampah nya.
Yose, penggiat lingkungan kota padang mengatakan, sebenarnya sampah bukanlah hal yang menakutkan karena masih ada nilai ekonomi jika diperlakukan dengan benar.
“Bagi saya yang menakutkan itu adalah perilaku manusianya, bagaimana manusia itu memperlakukan sampah itu sendiri, ujarnya.
Mengenai daur ulang sampah di Kota Padang Yose menyoroti masalahnya tentang finansial, bagaimana nanti para pengepul itu akan mendistribusikan sampah karena tak didukung ketidak adanya bank sampah.
“Kita berharap setiap kelurahan bisa ada pabrik yang dapat mengolah sampah menjadi bernilai ekonomi, ” ujarnya.
Sementara Emma dari Organisasi pendaur ulang sampah menjadi produktif mengatakan, jangan karna pendidikan rendah menjadikan kita rendah. Sampah adalah harta karun terpendam, dan menjadi tanggung jawab kita bersama.
“Bagi kami sampah adalah barang yang bernilai, cuma persoalannya di pemasaran, ” katanya.
Sedangkan Dr. Yosi mengaku bahwa pihaknya dari Universitas selama ini sudah sering melakukan sosialisasi, dengan cara mendaur ulang menjadi sesuatu adalah sesuatu yang bagus dan berguna.
“Kami juga telah sering memberikan sosialisasi kepada masyarakat maupun para UMKM melalui pengabdian kepada masyarakat, bagaimana sampah mempunyai prospek yang bagus, yaitu dimulai dari mengolah hingga sampai memasarkan,” katanya.
Namun kenyataannya sampah tetaplah menjadi persoalan bagi pemerintah Kota, meski telah berulang kali menggalakan setiap daerah harus tersedia Bank Sampah. Tapi tetap saja sampah terlihat berserakan dan bertumpuk tumpuk disekitar kita. (**)





