Iptek

Dr Aqua Dwipayana: Kebahagiaan itu pada Diri Masing-masing

2
×

Dr Aqua Dwipayana: Kebahagiaan itu pada Diri Masing-masing

Sebarkan artikel ini

IWOSUMBAR.COM, BANGKALAN- Semua anggota Polres Bangkalan berhak bahagia agar selalu semangat melaksanakan semua tugas terutama memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Untuk mewujudkan itu cukup sederhana. Kebahagiaan itu ada pada diri masing-masing”.

Demikian disampaikan Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana pada Sharing Komunikasi dan Motivasi di hadapan puluhan anggota polisi termasuk perwira dan pegawai aparatur sipil negara di lingkungan Polres Bangkalan, Jawa Timur (Jatim), Kamis sore (25/11/2021).

Kegiatan itu merupakan tindak lanjut safari silaturahim yang dijalankan Dr Aqua selama lebih kurang dua pekan di Jawa Timur (Jatim). Sharing tersebut bertajuk “Memperkuat Kemampuan Komunikasi Seluruh Personel Polres Bangkalan untuk Meningkatkan Kinerja Terutama Memberikan Layanan Terbaik ke Masyarakat”.

Dr Aqua menyampaikan kunci hidup bahagia adalah menjalani kehidupan termasuk melaksanakan aktivitas mulia sebagai anggota Polri, menikmatinya, selalu mengedepankan rasa syukur, dan menerima apapun dengan ikhlas.

“Kebahagiaan tidaklah identik menjadi milik mereka yang memiliki segalanya. Itu hanya akan menghampiri mereka yang bersyukur atas apapun situasi dan kondisi yang dialaminya. Oleh karena itu, hidup bahagia itu rumusnya syukur dan bekerja ikhlas,” kata Dr Aqua menegaskan.

Staf Ahli Ketua Umum Komite Olah Raga Nasional (KONI) Pusat Bidang Komunikasi Publik ini mengungkapkan untuk hidup dengan bahagia dan tanpa beban maka kita mesti menjalani kehidupan ini dengan sederhana. Yaitu selalu bersyukur dan bekerja dengan ikhlas.

Pria sederhana yang senang membantu banyak orang dengan ikhlas ini menyodorkan setidaknya empat cara menjalani hidup dengan simpel.

“Pertama, jangan pernah mencampuri masalah hidup orang lain. Komentar ini-itu yang tidak perlu atau fitnah sana dan sini, menjajakan keburukan orang lain,” kata Dr Aqua menegaskan.

Kedua, pelopor program umrah gratis The Power of Silaturahim (POS) ini menjelaskan bahwa kita mesti bergaya hidup sesuai dengan kemampuan sosial dan ekonomi kita sendiri. “Jangan siksa diri demi semata memuaskan hati. Ketiga, nikmatilah hidup dengan bersyukur. Apa yang yang dijalani seperti mana yang  diinginkan,” ucap Dr Aqua.

Kemudian, keempat adalah jangan pernah mendengarkan apa kata orang. “Ingatlah kita tak meminta makan atau beras kepada mereka. Jadi kenapa kita memusingkan apa kata orang. Fokus saja apa yang bisa kita kerjakan dan kerjakanlah dengan sebaik-baiknya. Intinya, bahagia sederhana, sesederhana kita tersenyum dan bersyukur dengan apa yang kita miliki,” tegas Dr Aqua.

Lebih jauh, penulis buku “super best seller” Trilogi The Power of Silaturahim itu menyatakan bahwa pada hakikatnya waktu di dunia itu hanya ada tiga hari, yakni kemarin, hari ini, dan esok.

“Kemarin adalah hal yang tak akan terulang lagi ceritanya. Besok adalah dimensi waktu yang belum tentu kita bisa bertemu dengannya,” ungkap pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara ini.

Oleh karena itu, ia mengingatkan waktu di hari ini yang harus kita perjuangkan. Inilah dimensi waktu di mana kita bisa menabung berbagai amalan untuk kita yang akan kita petik hasilnya di masa mendatang.

“Jangan pernah sia-siakan waktu yang kita miliki. Karena itu, niatkan semua yang kita kerjakan sebagai ibadah kita kepada Tuhan. Jika kita melakukan semua dengan ikhlas dilandasi oleh ibadah maka kita tidak akan pernah merasa lelah. Kita akan selalu dibantu oleh Yang Mahakuasa sehingga apapun yang kita lakukan akan kita jalani dengan penuh kemudahan,” katanya.

HATI YANG BERSIH

Komunikasi adalah senjata utama seluruh anggota Polri. Jika mau sukses dalam melaksanakan tugas-tugasnya agar memperbaiki dan meningkatkan kemampuan komunikasinya.

Menurut Dr Aqua belajar komunikasi itu tidak sulit. Terpenting memperhatikan dasarnya yakni memiliki hati yang bersih. Lakukan secara konsisten.

“Jika hal yang mendasar itu dapat diwujudkan secara konsisten maka insya Allah komunikasinya sukses. Baik di internal maupun eksternal,” tegas Dr Aqua.

Untuk mewujudkan semua itu anggota Dewan Pakar Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) ini menyarankan semua anggota polisi di mana saja berada agar secara konsisten melaksanakan REACH Plus A+C. Jadi tidak hanya saat bertugas saja.

Menurut Dr Aqua selama ini telah terbukti REACH Plus A+C sukses mengatasi berbagai persoalan komunikasi. Jadi semua anggota polisi tinggal menjalankannya saja secara konsisten.

Baca Juga  Praktek Praktikum Kimia Sederhana di SMAN 16 Padang

Aspek pertama adalah sikap menghargai orang lain tanpa kecuali yang diwakili dengan kata “Respect”. Penulis buku “super best seller” trilogi The Power of Silaturahim ini menegaskan di mana pun kita berada, jangan pernah menganggap remeh siapa pun. Hormati dan hargai semua orang yang berkomunikasi dengan kita.

“Jangan karena punya pangkat dan jabatan, merasa lebih hebat dari yang lain. Sehingga tidak menghargai orang lain,” kata pria yang selalu bicara apa adanya.

Amanah sebagai anggota polisi, ujar Dr Aqua, sebaiknya dimanfaat sebaik-baiknya dengan menghargai semua orang. Sehingga semuanya merasa nyaman saat  bekomunikasi.

Selain itu, tambah Dr Aqua, masyarakat tidak ragu-ragu menyampaikan berbagai informasi kepada polisi. Sedikit banyak info yang disampaikan mereka bermanfaat buat polisi.

Kedua adalah sikap “empathy” (empati). Semua anggota polisi harus bisa merasakan yang dirasakan orang lain. Ini juga penting buat para komandan kepada seluruh anggotanya.

“Upayakan bisa merasakan yang dialami orang lain.Dengan begitu semuanya merasa nyaman. Apalagi kalau kemudian dapat membantu mengatasi kesulitan mereka,” tutur Dr Aqua.

Ketiga adalah “audible” atau dapat dipahami dan dimengerti. Berusahalah agar semua yang disampaikan kepada orang lain termasuk masyarakat pesannya dapat mereka terima dengan baik.

“Upayakan semua pesan yang kita sampaikan diterima secara maksimal dan dapat dipahami oleh penerima pesan. Ini sangat penting agar mereka tidak salah memahaminya sehingga umpan baliknya sesuai dengan yang diharapkan,” ungkapnya.

Dr Aqua kemudian menjelaskan tentang beberapa elemen penting dalam proses komunikasi agar efektif dan mencapai sasaran. Menurutnya hal ini sangat menentukan keberhasilan berkomunikasi.

Hal tersebut adalah Pengirim informasi (Sender), Simbol/Isyarat (Encoding), Saluran (Channel),  Mengartikan Simbol/Isyarat (Decoding), Penerima (Receiver), Umpan Balik (Feedback) dan Pesan (Message) itu sendiri.

Pertama adalah Pengirim (Sender) atau disebut dengan Komunikator. Biasanya telah menyiapkan berbagai pesan yang akan disampaikan.

“Saat ini saya menjadi komunikator. Menyampaikan banyak pesan kepada seluruh peserta Sharing Komunikasi dan Motivasi di Polres Bangkalan,” jelas Dr Aqua.

Kedua adalah Pesan (Message). Merupakan proses menyampaikan berbagai pemikiran termasuk ide, gagasan, pedoman, instruksi, perintah, dan lainnya. Ketika melakukan ini terkadang ada gangguan (noise). Upayakan untuk meminimalisirnya agar semua pesan tersampaikan dengan baik.

Ketiga adalah mengkonversikan pesan ke bentuk simbolis (encoding). Ini adalah proses mengubah semua pesan yang akan disampaikan menjadi simbol, kalimat, tindakan, gerakan tubuh, diagram, gambar-gambar dan lainnya.

“Penerima pesan harus bisa memahami seluruh pesan yang disampaikan. Untuk itu dibutuhkan kepiawaian pengirim pesan agar semua yang disampaikannya mudah dipahami,” kata Dr Aqua.

Keempat, saluran komunikasi (channel). Dalam menyampaikan pesan, pengirim pesan harus menggunakan saluran komunikasi yang tepat. Ini sangat penting agar semua yang disampaikan dapat diterima secara efektif dan penerima pesan menafsirkannya secara benar.

Selain saluran komunikasi harus tepat, juga terkait erat dengan hubungan interpersonal antara pengirim dan penerima pesan. Termasuk urgensi pesan yang akan dikirim.

Kelima adalah pengertian ulang simbolis (Decoding). Pada proses ini penerima berusaha untuk menafsirkan semua  pesan yang disampaikan pengirim kepadanya dan mencoba memahaminya
dengan sebaik mungkin.

“Komunikasi yang efektif hanya terjadi jika penerima pesan memahami sama persis dengan yang dimaksudkan pengirim pesan. Untuk itu sebaiknya menyampaikannya dengan kalimat sederhana yang mudah dipahami,” ujar Dr Aqua.

Keenam adalah penerima pesan (Receiver). Biasa juga disebut dengan komunikan. Harus berusaha secara maksimal memahami semua pesan yang diterima.

Ketujuh adalah umpan balik (feedback). Merupakan langkah terakhir dari proses komunikasi. Ini sekaligus buat  memastikan penerima telah menerima pesan dengan baik dan menafsirkannya secara benar sesuai dengan yang dimaksudkan oleh orang yang mengirimkan pesan.

“Umpan balik menunjukkan bahwa komunikasinya dua arah. Tanggapan penerima pesan wujudnya bisa verbal dan non verbal. Hal ini sangat penting bagi pengirim pesan untuk mengetahui efektif atau tidak pesan yang disampaikannya,” jelas Dr Aqua.

Aspek selanjutnya dari REACH ungkap penulis banyak buku “super best seller” ini adalah “clarity” atau kejelasan dari semua pesan yang disampaikan. Jangan sampai menimbulkan multi interpretasi atau tafsir yang akhirnya tujuan berkomunikasi tidak tercapai.

“Clarity” bisa juga diartikan sebagai upaya melakukan transparansi dalam berkomunikasi. Perlu membiasakan hal ini, tanpa menutup-nutupi informasi, agar penerima pesan menjadi percaya.

Baca Juga  FT UNP Beri Mesin Hasil Inovasi pada Dua Nagari di Kabupaten Solok

Apapun pesan komunikasi yang disampaikan harus dapat dipahami oleh pihak lain, dengan penyampaian yang sederhana dan apa adanya.

“Semua pesan yang disampaikan harus jelas agar tidak terjadi multi interpretasi atau penafsiran yang berbeda dari penerima pesan. Jika itu terjadi dampaknya bisa fatal,” tegas Dr Aqua.

Terakhir adalah “humble” atau rendah hati. Jangan pernah tinggi hati dan sombong karena itulah awal dari keterpurukan kita sebagai manusia.

“Contohnya adalah jabatan seseorang. Itu ibarat kapas di ujung telunjuk. Begitu ditiup bisa langsung hilang. Sebagai manusia tidak ada yang perlu kita sombongkan. Semuanya milik Tuhan. Kita hanya dititipkan saja. Setiap saat yang kita miliki bisa diambil pemilikNya dan kita diminta pertanggungjawabannya,” terang Dr Aqua.

Semakin tinggi jabatan dan pangkat seseorang, kata Dr Aqua, seharusnya orang tersebut makin rendah hati. Bukan sebaliknya yang akhirnya dapat merugikan orang tersebut dalam jangka panjang.

“REACH” menurut laki-laki yang hobi silaturahim ini tidak ada artinya jika tidak dilengkapi dengan huruf ‘A’ dan ‘C’ yakni Action dan Consistency atau Tindakan nyata dan cepat serta Konsistensi dalam pelaksanaannya. Jadi yang paling penting adalah implementasi pelaksanaannya secara terus-menerus.

Komunikasi itu lanjut Dr Aqua kelihatannnya sederhana. Bahkan ada orang yang menyepelekannya. Apalagi merasa sejak lahir setiap hari telah berkomunikasi.

“Padahal komunikasi itu vital sekali. Jika tidak hati-hati dalam berkomunikasi dampaknya bisa fatal. Telah banyak contoh mengenai hal ini,” ungkap Dr Aqua.

HILANGNYA NYAWA

Sementara itu, dalam paparannya yang menarik, Ero panggilan akrab Savero Karamiveta Dwipayana dengan gaya milienialnya menguraikan bahwa hingga 25 November 2021, dalam data yang dikumpulkan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) terdapat  1.999 hoaks  dan semuanya sudah diklarifikasi.

“Ini persoalan riil yang kita hadapi di tengah kerja keras dan upaya kita dalam menghadang pandemi Covid-19. Merebaknya hoaks atau kabar bohong di ruang virtual kita ini harus menjadi kewaspadaan kita karena data tersebut sangat mengerikan,” ungkap Ero.

Mahasiswa penerima Anugerah Pegiat Gerakan Kemanusiaan dan Pemberdayaan Masyarakat dari Fikom Unpad pada 2020  tersebut menjelaskan kenapa hoaks mengerikan karena bisa saja berdampak pada hilangnya nyawa orang lain.

“Kok bisa? Iya, kareka dari hoaks itu bisa muncul miskomunikasi, lalu bisa mengarah ke perselisihan atau pertikaian yang berpotensi membuat orang meninggal,” tegas Ero.

Dikatakan, terdapat konsep komunikasi yang sangat penting untuk dijalankan ketika kita berhadapan dengan masyarakat. Konsep itu terangkum dalam jargon “DAK” yakni kependekan dari Dengarkan, Apresiasi, dan Klarifikasi.

“Sebagai manusia, umumnya kita ingin didengar. Sama, orang lain pun juga ingin didengar. Jadi ketika ada masyarakat marah atau komplain, dengarkan saja dulu tidak usah kita lawan atau perdebatkan. Setelah kita dengarkan, kita apresiasi. Benar atau salah apresiasi dulu saja apa yang ia sampaikan. Saat diapresiasi setelah didengarkan maka ‘trust’ atau kepercayaan akan mulai terbangun. Nah ketika ‘trust’ sudah terbangun, baru kita masukkan pesan-pesan yang ingin kita sampaikan atau klarifikasi,” jelas Redaktur Pelaksana tugujatim.id ini.

Lanjutnya, maraknya hoaks dapat membuat orang menjadi tidak percaya ada dan bahaya Covid-19. Mereka menjadi tidak patuh protokol kesehatan dan hingga menolak vaksinasi. Semua komponen masyarakat harus bahu-membahu bersinergi membangun kesadaran bersama.

“Pemerintah tidak bisa berjalan sendirian karena saat ini teknologi telah memungkinkan masyarakat secara keseluruhan untuk mengambil alih proses produksi informasi. Jadi, tanpa keterlibatan semua kalangan, maka upaya meredam hoaks hanya akan seperti menggantang asap,” ungkapnya.

Diketahui Kiprah perdana komunikasi publik Ero yang sejak awal pandemi sudah menjadi relawan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 nasional yang saat itu dipimpin Letjen TNI Doni Monardo, dimulai pada Sharing Komunikasi dan Motivasi di Aula serbaguna SMAN 1 Bukittinggi, Sumatera Barat pada 2-3 Januari 2020.

Di sisi lain, Ero yang pada 2014 keliling Indonesia dengan mendatangi 34 provinsi mulai dari kilometer nol di Sabang, Aceh, sampai kilometer nol di Merauke, Papua menceritakan pengalamannya menjadi aktivis sosial, kegiatan sosial apa saja yang pernah diikuti, dan ketertarikannya untuk selalu memberi manfaat bagi lingkungan.