Nasional

Prediksi Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 Tanda Ijtima’ dan Awal Bulan Baru

0
×

Prediksi Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 Tanda Ijtima’ dan Awal Bulan Baru

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

PADANG– Fenomena langit langka berupa Gerhana Matahari Cincin diprediksi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026. Peristiwa ini menarik perhatian karena berlangsung hanya sehari sebelum atau berdekatan dengan awal Ramadhan 1447 Hijriah.

Berdasarkan perkiraan sejumlah lembaga, termasuk Kementerian Agama Republik Indonesia dan Muhammadiyah, 1 Ramadhan 1447 H diprediksi jatuh pada 18 atau 19 Februari 2026. Dengan demikian, gerhana tersebut menjadi fenomena pembuka menjelang bulan suci.

Gerhana Matahari Cincin terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari, namun jaraknya membuat piringan Bulan tampak lebih kecil sehingga tidak menutup Matahari sepenuhnya. Akibatnya, bagian tepi Matahari tetap terlihat dan membentuk lingkaran bercahaya yang dikenal sebagai “Cincin Api”.

Secara astronomis, gerhana matahari hanya mungkin terjadi saat fase bulan baru atau ijtima’, yaitu ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam satu garis lurus.

Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 diperkirakan mencapai puncak pada pukul 09.56 UTC atau sekitar 16.56 WIB. Namun, jalur utama gerhana tidak melewati wilayah Indonesia.

Fenomena ini hanya dapat disaksikan secara langsung di Antarktika, Afrika bagian selatan, serta sebagian wilayah Samudra Hindia dan Pasifik. Meski demikian, masyarakat Indonesia tetap bisa mengikuti siaran langsung melalui platform astronomi internasional.

Secara ilmu falak, gerhana matahari menjadi bukti nyata terjadinya ijtima’ atau konjungsi, yakni berakhirnya bulan lama dan dimulainya bulan baru dalam kalender Hijriah.

Al-Qur’an dalam Surah Yunus ayat 5 menegaskan bahwa Matahari dan Bulan dijadikan sebagai penanda waktu. Sementara dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda agar umat Islam berpuasa karena melihat hilal dan berbuka karena melihatnya.

Pada masa Nabi, metode rukyat (pengamatan langsung hilal) menjadi cara paling akurat. Kini, perhitungan hisab mampu menentukan waktu ijtima’ hingga tingkat presisi detik. Gerhana menjadi konfirmasi visual bahwa konjungsi tersebut benar-benar terjadi.

Dengan terjadinya Gerhana Matahari Cincin pada 17 Februari 2026, secara astronomis fase bulan baru telah hadir. Meski penetapan awal Ramadhan tetap melalui mekanisme resmi masing-masing otoritas, fenomena langit ini menjadi penanda kosmik yang menarik untuk dicermati.

Sebagai catatan, siklus gerhana biasanya diikuti Gerhana Bulan sekitar dua pekan setelahnya. Awal Maret 2026 diprediksi akan terjadi Gerhana Bulan Total yang berlangsung di pertengahan Ramadhan.

Langit telah memberi tanda. Kini, umat Islam bersiap menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih dan persiapan yang matang.