PADANG – Di tubuh Kepolisian Republik Indonesia, nama Komjen Pol (Purn) Boy Rafli Amar dikenal sebagai sosok jenderal yang tenang, komunikatif, dan berwibawa. Perwira tinggi bintang tiga yang baru menyelesaikan masa pengabdiannya sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Boy Rafli Amar juga kerap dipandang sebagai figur polisi pemersatu yang mengedepankan dialog dalam setiap tugas negara.
Lahir di Jakarta, 25 Maret 1965, Boy Rafli berasal dari keluarga perantau Minangkabau. Ayahnya berasal dari Solok, sementara sang ibu dari Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat. Meski besar di ibu kota, nilai-nilai adat dan budaya Minang tetap melekat kuat dalam dirinya.
Jejak intelektual mengalir dalam darah Boy Rafli. Ia merupakan cicit dari sastrawan legendaris Indonesia, Aman Datuk Madjoindo, pengarang novel klasik Si Doel Anak Betawi. Warisan pemikiran dan tradisi literasi tersebut menjadi fondasi kuat dalam membentuk karakter komunikatif yang melekat pada dirinya.
Komitmennya menjaga akar budaya dibuktikan dengan penganugerahan gelar adat Kepala Kaum Suku Koto, Nagari Koto Gadang, pada 29 November 2013. Dalam prosesi adat tersebut, Boy Rafli dianugerahi gelar Datuak Rangkayo Basa, sebuah amanah besar untuk menjaga marwah kaum dan adat Minangkabau, seiring dengan tanggung jawabnya sebagai perwira tinggi Polri.
Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1988 ini meniti karier panjang di bidang reserse. Pengalaman internasional diperolehnya saat dipercaya menjadi Wakil Komandan Kontingen Garuda XIV di Bosnia pada 1999, ketika berpangkat Komisaris Besar Polisi. Penugasan tersebut memperkaya perspektif kepemimpinannya di level global.
Nama Boy Rafli semakin dikenal publik ketika menjabat Kepala Divisi Humas Polri. Gaya komunikasinya yang sejuk dan lugas menjadikannya wajah Polri yang efektif dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Kariernya berlanjut sebagai Kapolda Banten dan Kapolda Papua, sebelum akhirnya dipercaya Presiden untuk memimpin BNPT periode 2020–2023. Di lembaga tersebut, Boy Rafli dikenal mendorong pendekatan humanis dan persuasif dalam pencegahan terorisme, tanpa mengesampingkan aspek penegakan hukum.
Di tengah kesibukan dinas, Boy Rafli tetap menempatkan pendidikan sebagai prioritas. Pada 2019, ia meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjadjaran, memperkuat reputasinya sebagai jenderal yang menggabungkan kecakapan intelektual dan pengalaman lapangan.
Kini, setelah memasuki masa purnatugas, suami dari Irawati ini tetap menjadi figur inspiratif. Boy Rafli Amar menunjukkan bahwa seorang polisi tidak hanya dituntut tegas dan berani, tetapi juga mampu menjadi intelektual, komunikator ulung, serta pemangku adat yang menjunjung tinggi nilai kesantunan dan kearifan lokal. (S.Wikipedia)






