PADANG – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus memperkuat upaya pencegahan resistensi antimikroba melalui kegiatan Workshop AMR Warrior Campaign bertema “Act Now, Protect Our Present, Secure Our Future”. Kegiatan tersebut digelar di Hotel Rocky Padang, Sabtu (7/2/2026), sebagai langkah strategis meningkatkan kesadaran publik terhadap ancaman resistensi antibiotik yang kian mengkhawatirkan.
Asisten II Sekretariat Daerah Kota Padang, Didi Aryadi, menyampaikan apresiasi atas inisiatif BPOM dalam menghadirkan edukasi kesehatan yang menyasar langsung masyarakat. Menurutnya, pemahaman mengenai penggunaan antibiotik yang tepat menjadi hal penting untuk menekan laju resistensi mikroba.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Kota Padang, khususnya dalam meningkatkan kesadaran tentang bahaya resistensi mikroba akibat penggunaan antibiotik yang tidak sesuai aturan,” ujar Didi mewakili Wali Kota Padang.
Ia juga menilai pendekatan kampanye yang dilakukan BPOM cukup inovatif, salah satunya dengan mengombinasikan edukasi kesehatan dan kegiatan olahraga melalui agenda Fun Run yang akan dilaksanakan keesokan harinya.
“Ini konsep kegiatan yang menarik dan relevan dengan tren gaya hidup sehat. Pemerintah Kota Padang tentu mendukung penuh karena sejalan dengan upaya membangun budaya hidup sehat di tengah masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar dalam pemaparannya menegaskan bahwa penggunaan antimikroba tanpa indikasi dan tanpa resep dokter merupakan praktik tidak rasional yang berujung pada resistensi.
“Setiap penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada akhirnya akan menyebabkan resistensi, dan dampaknya adalah ketidakmampuan obat untuk melawan penyakit,” tegas Prof. Taruna.
Ia mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menunjukkan bahwa resistensi antimikroba telah menyebabkan sekitar 4,6 juta kematian secara global dalam satu tahun terakhir. Jika tidak ditangani secara serius, angka tersebut berpotensi meningkat hingga 10 juta kematian per tahun dalam satu dekade mendatang.
Menurutnya, ancaman resistensi antimikroba tidak bisa lagi disikapi sebatas wacana, melainkan membutuhkan aksi nyata dari seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat luas.
“Ini bukan lagi saatnya hanya berdiskusi. Kita harus bertindak sekarang untuk melindungi masa kini dan mengamankan masa depan. Resistensi antimikroba adalah silent pandemic yang sangat berbahaya,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, BPOM mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadi AMR Warrior, yakni pejuang yang berperan aktif dalam mencegah resistensi antimikroba demi keberlanjutan kesehatan generasi mendatang.






