PADANG- Penyelamatan sektor perekonomian kerakyatan harus menjadi fokus utama dalam pemulihan pascabencana. tanpa intervensi ekonomi yang cepat dan sinergis dari pemerintah pusat dan daerah, bencana berpotensi melahirkan kelompok miskin baru di tengah masyarakat.
Dibicarakan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pemulihan Pascabencana Sumatera yang digelar secara daring dari Gedung Bapenda Kota Padang, Jumat (9/1/2026). Rakor dipimpin Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Wakil Gubernur Sumatera Barat, serta diikuti pemerintah kabupaten dan kota di Sumatera yang terdampak banjir dan longsor pada akhir November lalu.
Wakil walikota Maigus Nasir mengungkapkan bahwa sektor pertanian di Kota Padang mengalami kerusakan serius. Sekitar 4.000 hektare lahan pertanian warga tidak dapat digarap akibat sistem irigasi yang rusak total.
“Irigasi adalah urat nadi petani. Jika tidak segera diperbaiki, ribuan petani akan kehilangan mata pencaharian. Karena itu, perbaikan irigasi menjadi prioritas utama kami untuk menjaga ketahanan ekonomi masyarakat,” katanya.
Selain pertanian, perhatian juga diarahkan pada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang terdampak langsung akibat kehilangan aset maupun tempat usaha. Saat ini, Pemerintah Kota Padang tengah melakukan pendataan lapangan secara intensif sebagai dasar pengusulan bantuan permodalan ke pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri.
“Kami ingin memastikan UMKM terdampak mendapatkan suntikan modal agar roda ekonomi mereka bisa segera berputar kembali,” ujar Maigus Nasir.
Sementara kerusakan infrastruktur yang turut menghambat pemulihan ekonomi di Padang tercatat sebanyak sembilan jembatan dan dua ruas jalan kota putus total, sehingga mengganggu distribusi barang dan mobilitas warga. Sedangkan pemasangan jembatan darurat Bailey belum memungkinkan karena bentang sungai yang lebar.
“Kami berharap ada perhatian khusus dari pemerintah pusat untuk solusi teknis jembatan permanen, agar isolasi ekonomi di sejumlah wilayah bisa segera teratasi,” kata Maigus.
Di sektor pendidikan, Maigus Nasir menyampaikan bahwa satu unit gedung Sekolah Dasar, yakni SDN 49 Koto Tangah, hanyut terbawa arus. Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dengan menumpang di gedung Puskesmas Pembantu. Akses menuju SMPN 44 juga masih terkendala.
Selanjutnya dua madrasah atau pesantren turut terdampak. Satu gedung mengalami kerusakan hingga 80 persen, sedangkan satu lainnya kehilangan beberapa ruang kelas, meski proses belajar mengajar masih tetap berlangsung.
Dikatakan percepatan pemulihan infrastruktur dan ekonomi harus berjalan seiring agar masyarakat terdampak dapat segera bangkit dan kembali beraktivitas secara normal.





