PADANG- Galodo atau banjir bandang yang melanda Sungai Batuang, kawasan Maninjau, terpantau jelas melalui citra satelit Sentinel-2 dengan akuisisi data pada 18 dan 23 Desember. Hasil analisis menunjukkan, dua Sub Daerah Aliran Sungai (Sub DAS) Antokan, yakni Batang Timayo dan Batang Rambun, menjadi wilayah yang terdampak paling signifikan.
Kedua Sub DAS tersebut berhulu di kawasan Bukit Pauh dan Bukit Panarahan, yang merupakan bagian dari Cagar Alam Maninjau. Wilayah ini berada pada ketinggian antara 463 hingga 1.259 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan karakter topografi kelas lereng III atau agak curam, berkisar 16–25 persen.
Kondisi alam berupa elevasi tinggi dan lereng curam, ditambah curah hujan ekstrem, menjadikan kawasan hulu sangat rentan terhadap bencana galodo. Kerentanan semakin meningkat ketika fungsi tutupan hutan terganggu, karena mempercepat limpasan air serta pergerakan material sedimen menuju wilayah hilir.
Berdasarkan interpretasi citra satelit pascagalodo, luas area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 188 hektare.
“Dampak bencana tersebut meluluhlantahkan lahan persawahan, kebun milik masyarakat, rumah dan bangunan, serta merusak berbagai sarana dan prasarana, termasuk jalan dan jaringan irigasi”.
WALHI Sumatra Barat mengingatkan Pemerintah dan menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi galodo susulan.
“Hingga saat ini, masih tersimpan ribuan ton material sedimen, batu, dan kayu di bagian hulu Sub DAS Antokan yang sewaktu -waktu dapat kembali hanyut ke hilir apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi”, sebut Tommy WALHI Sumbar. (Rel)





