PADANG – Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar memberikan pembekalan sekaligus melepas ribuan mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN), Selasa (17/12/2025), di Auditorium UNP.
Dalam arahannya, Muhaimin Iskandar menegaskan tantangan besar pemberdayaan masyarakat di Indonesia. Saat ini, sekitar 22 juta warga masih berada dalam kemiskinan ekstrem, sementara 23,8 juta lainnya hidup dalam kondisi miskin. Menurutnya, peran mahasiswa sangat strategis untuk menghadirkan solusi nyata di tengah masyarakat.
Menko PM juga menantang mahasiswa UNP untuk menuliskan gagasan pemberdayaan masyarakat yang relevan bagi Indonesia dan mengirimkannya ke Kementerian. “Gagasan terbaik akan kami beri apresiasi,” ujarnya.
Kunjungan kerja Menko PM ke Padang juga berkaitan dengan penanganan dampak banjir besar di Sumatera, yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Besarnya dampak bencana mendorong Kemenko PM memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi, termasuk UNP.
Sebanyak 2.232 mahasiswa mengikuti KKN Tematik yang difokuskan pada pemberdayaan masyarakat dan pemulihan pascabencana, sebagai bagian dari respons cepat pemerintah. Program ini merupakan tindak lanjut kerja sama Kemenko PM dengan perguruan tinggi se-Indonesia yang tertuang dalam Nota Kesepahaman bersama Majelis Rektor PTN Indonesia (MRPTNI) dan Forum Rektor Indonesia (FRI) sejak Desember 2024.
Secara keseluruhan, 3.500 mahasiswa UNP diterjunkan melalui program KKN, terdiri dari 2.232 mahasiswa KKN Tematik dan 1.231 mahasiswa KKN Tanggap Bencana. KKN Tematik akan menjalankan 18 program pemberdayaan masyarakat di desa dan nagari, sementara KKN Tanggap Bencana difokuskan pada pemulihan ekonomi warga, pendampingan psikologis korban, pembersihan wilayah terdampak, serta penyediaan logistik.
Dalam agenda kunjungan kerjanya, Menko PM juga dijadwalkan meninjau langsung lokasi terdampak banjir di Kota Padang.
Berdasarkan data BNPB per 16 Desember 2025, bencana banjir di Sumatera Barat telah menyebabkan 244 orang meninggal dunia, 90 orang masih dinyatakan hilang, serta ribuan warga terdampak dan mengungsi. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat masih menetapkan status tanggap darurat bencana hingga 22 Desember 2025.





