ACEH – Di hadapan Najwa Shihab, Seorang Panglima dan Gubernur Aceh Muzakir Manaf, atau yang akrab disapa Mualem, menunjukkan sisi yang jarang terlihat dari seorang panglima yang selama ini disegani dan dihormati oleh rakyat Aceh.
Berhari -hari berjibaku di lokasi bencana, malam tanpa istirahat, membuat sorot matanya tampak redup. Ketika Najwa bertanya mengenai kondisi Aceh, suara Mualem melemah. Ia tidak berbicara sebagai pejabat, melainkan sebagai manusia yang tengah menahan letih berkepanjangan.
“Saya pada prinsipnya tidak punya apa-apa. Saya hanya berusaha, hanya berdoa,” ucapnya pelan sebuah pengakuan jujur yang menembus kesunyian ruangan.
Sesaat kemudian, Mualem terdiam. Tangannya yang selama ini identik dengan komando dan ketegasan perlahan menggenggam, seakan mencari pegangan. Saat ia menatap kembali ke arah kamera, dua butir air mata jatuh, mengalir di wajah yang sudah dipahat oleh kelelahan.
Bukan sedih yang berlebihan. Tidak pula ratapan panjang. Namun justru kesunyian itulah yang membuatnya terasa lebih dalam. Air mata itu berbicara tentang frustasi seorang pemimpin yang melihat rakyatnya menderita, tapi terbatasi oleh waktu, birokrasi, dan kemampuan yang tak sebanding dengan besarnya bencana.
Dengan suara bergetar, ia menyampaikan harapannya. “Semoga bantuan -bantuan dapat berada di Aceh. Dapat orang tolong ke Aceh seperti itu.” sebutnya.
Permintaan ini bukan untuk dirinya. Ia berbicara untuk para ibu yang kehilangan rumah, anak -anak yang kelaparan, hingga para lansia yang kini hidup dalam kesusahan. Melalui tangis Mualem, terlihat jelas wajah Aceh yang sedang berjuang bangkit.
Najwa Shihab, yang biasanya tegas dan kritis, juga tampak tersentuh. “Tidak perlu minta maaf, Mualem,” ungkapnya. kalimat sederhana yang memutus jarak antara jurnalis dan narasumber.
Momen itu menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang tidak pernah menangis, melainkan tentang keberanian menunjukkan ketulusan. Di tengah bencana yang memisahkan ribuan keluarga, air mata sang gubernur justru menjadi jembatan yang menyatukan perasaan seluruh bangsa.
Sambil merunduk Mualem dalam kesedihan Gubernur Aceh Muzakir Manaf berkata “Kalau kita bergantung pada manusia kita kecewa, tapi kalau kita bergantung pada Allah, kita terima semua apa adanya”, ujarnya lirih.
Semoga Aceh kembali pulih serta bangkit seperti sediakala, bantuan akan terus mengalir, doa rakyat Indonesia menjadi penyemangat bagi rakyat Aceh untuk kembali pulih dan tegar dalam menghadapi musibah bencana ini.






