Berita

Bendungan Rusak, Ribuan Hektare Sawah di Padang Terancam Kekeringan

6
×

Bendungan Rusak, Ribuan Hektare Sawah di Padang Terancam Kekeringan

Sebarkan artikel ini
(Ket photo: Bendungan Rusak, Ribuan Hektare Sawah di Padang Terancam Kekeringan)

PADANG – Ribuan hektare sawah di Kota Padang terancam mengalami kekeringan setelah banjir bandang pada Jumat (28/11/2025) merusak dua bendungan utama yang menjadi sumber irigasi. Kondisi ini dikhawatirkan menimbulkan gagal panen dalam skala besar dalam beberapa hari ke depan.

Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yuliani, mengatakan sebanyak 2.912,16 hektare sawah berada dalam kondisi terancam kekeringan. Lahan-lahan tersebut tersebar di Kecamatan Koto Tangah, Kuranji, Lubuk Kilangan, Nanggalo, Padang Timur, dan sebagian Pauh.

“Dari total 4.358 hektare sawah eksisting di Kota Padang, lebih dari 50 persennya berpotensi kering,” ujar Yoice kepada Diskominfo, Selasa (2/12/2025).

Intake Bendungan Jebol, Ribuan Hektare Tak Terairi. Kerusakan terparah terjadi pada Bendungan Koto Tuo di Koto Tangah dan Bendungan Gunung Nago. Kedua bendungan itu mengalami kerusakan berat pada bagian intake yang mengatur aliran air ke persawahan.

“Intake jebol sehingga tidak dapat mengairi sawah,” kata Yoice dalam keterangan.

Di Koto Tangah, sekitar 900 hektare dari total 1.200 hektare sawah sudah terdampak dan diperkirakan seluruhnya akan mengalami kekeringan dalam beberapa hari ke depan jika aliran air tidak segera pulih.

Di Bendungan Gunung Nago, intake jalur kanan dan kiri sama-sama jebol. Dampaknya menjalar luas hingga mengeringkan sawah di Kecamatan Nanggalo; sebagian Gunung Sarik, Sungai Sapih, Kalumbuk, Korong Gadang; Piai Tangah; Pisang; Binuang Kampung Dalam; Cupak Tangah; sebagian Padang Timur; sebagian Kuranji; serta tiga kelurahan di Lubuk Begalung.

“Melalui irigasi Gunung Nago saja, sawah yang terancam kekeringan mencapai sekitar 2.000 hektare,” tambah Yoice.

Solusi Darurat dan Koordinasi dengan BWS V. Dinas Pertanian telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWS) V untuk mencari solusi darurat. Sejumlah kelompok tani di Koto Tangah meminta penggunaan pompa besar agar air dapat mengalir kembali ke sawah, terutama karena sebagian tanaman padi baru saja tumbuh.

Namun BWS V menyarankan untuk tidak menggunakan pompa karena biaya operasional yang sangat tinggi.

“Saran dari BWS V adalah membangun batu bronjong agar air bisa masuk kembali. Untuk perbaikan bendungan Koto Tuo dan Gunung Nago, itu merupakan kewenangan Pemprov Sumbar melalui Dinas PUPR,” kata Yoice.

357 Hektare Sawah Sudah Alami Puso
Hingga saat ini, Dinas Pertanian mencatat 357 hektare sawah telah mengalami puso, termasuk di Kelurahan Kuranji yang tertimbun lumpur. Jumlah ini diprediksi terus bertambah seiring meluasnya kekeringan yang menghambat pertumbuhan padi.

Meski begitu, masih ada wilayah yang aman dari ancaman kekeringan, di antaranya 650 hektare sawah di Kecamatan Bungus Teluk Kabung serta sejumlah sawah di Kecamatan Lubuk Begalung yang pasokan airnya berasal dari hulu Lubuk Peraku.