Nasional

Sumbar Susun RPRKD, UNP Tawarkan Pendekatan GreenMetric

7
×

Sumbar Susun RPRKD, UNP Tawarkan Pendekatan GreenMetric

Sebarkan artikel ini
(Ket Provinsi Sumatera Barat memasuki babak baru dalam agenda transisi menuju pembangunan rendah karbon. Kick-off penyusunan Rencana Pembangunan Rendah Karbon Daerah (RPRKD) yang digelar di Hotel Santika Padang, Kamis (13/11/2025)

PADANG -Provinsi Sumatera Barat memasuki babak baru dalam agenda transisi menuju pembangunan rendah karbon. Kick-off penyusunan Rencana Pembangunan Rendah Karbon Daerah (RPRKD) yang digelar di Hotel Santika Padang, Kamis (13/11/2025), menjadi langkah strategis untuk menyelaraskan komitmen lingkungan dengan arah pembangunan ekonomi jangka panjang.

Dalam kegiatan tersebut, Universitas Negeri Padang (UNP) turut ambil peran melalui dua akademisinya, Dr. Nofi Yendri Sudiar, M.Si. dan Dezi Handayani, M.Si. Keduanya memaparkan pengalaman dalam pengisian borang UI GreenMetric, sebuah instrumen penilaian kampus berkelanjutan yang dinilai relevan untuk diadaptasi dalam penyusunan RPRKD.

RPRKD dan GreenMetric: Bertemu dalam Perencanaan Berbasis Data. Pengalaman UNP dalam GreenMetric sejalan dengan kebutuhan penyusunan RPRKD, yakni penekanan pada data yang akurat, indikator yang terukur, serta konsistensi kebijakan lintas sektor.

Pendekatan ilmiah ini dinilai dapat membantu Sumatera Barat menjawab tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.
Tiga Krisis yang Mengancam Sumatera Barat.

Dalam pemaparannya, Bappenas menyampaikan bahwa Indonesia termasuk Sumbar kini berada dalam tekanan tiga krisis lingkungan: perubahan iklim, polusi, dan kehilangan keanekaragaman hayati.

“Dampaknya sudah terlihat jelas: banjir bandang di Kabupaten Agam, abrasi parah di Pesisir Selatan dan Pariaman, hingga kekeringan yang mengganggu produktivitas pertanian”.

Berdasarkan proyeksi nasional, ketersediaan air di Sumbar diperkirakan menurun hingga 31,9 persen pada 2030, sementara 16,4 persen kawasan pesisir berada dalam kategori rentan terhadap abrasi dan kenaikan muka air laut.

Tanpa perencanaan yang matang, kondisi tersebut bisa berdampak pada kontribusi sektor pangan, hortikultura, hingga perikanan terhadap PDRB daerah.

UI GreenMetric menilai keberlanjutan kampus berdasarkan enam aspek: tata kelola dan infrastruktur, energi dan perubahan iklim, limbah, air, transportasi, serta pendidikan. Bagi penyusunan RPRKD, pengalaman ini mengajarkan tiga hal penting: Pertama Keputusan harus berbasis data.

Sumatera Barat memiliki potensi ekologis besar, mulai dari hutan primer hingga cadangan energi terbarukan. Namun, tantangannya tidak kecil: pengurangan emisi, perbaikan tata kelola limbah, hingga penataan ruang yang lebih berkelanjutan.

Peran Strategis Perguruan Tinggi. UNP dalam forum ini menyatakan kesiapan untuk turut mendampingi pemerintah daerah. Tidak hanya memberi masukan akademik, perguruan tinggi juga bisa membantu pemodelan perhitungan emisi, memperkuat literasi iklim masyarakat, hingga menjadi laboratorium implementasi konsep rendah karbon berskala kecil.

Dari GreenMetric Menuju Green Province
Sumatera Barat menargetkan diri sebagai salah satu pelopor Green Province di Indonesia.

Untuk mencapainya, penyusunan RPRKD harus dilakukan secara inklusif, berbasis data, dan menyeluruh, seperti pendekatan yang telah diterapkan dalam UI GreenMetric.

Kick-off ini menjadi titik awal menuju pembangunan daerah yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga tangguh menghadapi krisis iklim di masa depan.