Ekonomi

Sektor Pertanian dan Perdagangan Masih Jadi Unggulan di Sumbar

16
×

Sektor Pertanian dan Perdagangan Masih Jadi Unggulan di Sumbar

Sebarkan artikel ini
(Ket photo: Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah bersama Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Sugeng Arianto, beserta jajaran berdiskusi tentang perekinomian di ruang kerjanya, Kamis (6/11/2025)

PADANG- Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah bersama Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Sugeng Arianto, beserta jajaran berdiskusi tentang perekinomian di ruang kerjanya, Kamis (6/11/2025). Audiensi tersebut dihadiri pula oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Adib Alfikri, Plt Kepala Bappeda Sumbar Yudha Prima, Kadis Perindag Novrial, serta perwakilan dari Diskominfotik dan dinas terkait lainnya.

Pertemuan membahas perkembangan ekonomi daerah, khususnya capaian kinerja sektor unggulan Sumbar pada triwulan III tahun 2025. Berdasarkan laporan BPS, sektor pertanian dan perdagangan masih menjadi motor utama penggerak ekonomi daerah dengan pertumbuhan.

Di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, Sumbar mencatat peningkatan signifikan pada produksi telur ayam dan daging ayam ras dibanding periode yang sama tahun lalu. Produksi kelapa sawit, kopi, dan tembakau juga mengalami kenaikan.

Sementara di sektor perdagangan, aktivitas perdagangan besar, eceran, hingga daring terus tumbuh seiring meningkatnya pasokan barang dari dalam maupun luar negeri. Namun, tidak semua sektor menunjukkan kinerja positif. Sektor transportasi dan pergudangan justru mengalami penurunan, jumlah penumpang dan barang angkutan udara turun masing-masing 7,06% dan 0,94%, sedangkan angkutan darat juga melemah.

Dengan laporan tersebut, Gubernur Mahyeldi menekankan pentingnya memperkuat strategi ekspor dan kerja sama antarwilayah agar Sumbar memperoleh nilai tambah ekonomi yang lebih besar. Ia juga mengusulkan agar sebagian industri direlokasi ke daerah dengan potensi bahan baku tinggi seperti Kabupaten Lima Puluh Kota.

“Kalau bisa, industri kita jangan semua terpusat di Padang. Sebagian sebaiknya diarahkan ke daerah yang punya potensi bahan baku agar rantai pasok lebih efisien dan nilai tambahnya kembali ke daerah,” ujar Mahyeldi.

Kepala BPS Sumbar, Sugeng Arianto, menyambut usulan tersebut, namun mengingatkan agar relokasi industri dilakukan dengan perencanaan matang. Ia mencontohkan, beberapa pabrik karet sebelumnya terpaksa tutup karena tingginya biaya logistik akibat jarak antara kebun dan pabrik.

Meski demikian, Sugeng menilai industri minyak sawit (CPO) di Sumbar masih memiliki daya saing kuat. “Kami mendorong investor menempatkan industri di lokasi strategis, terutama di wilayah perbatasan, agar arus barang tetap mengalir ke Sumbar,” katanya.

Selain membahas sektor unggulan, audiensi juga menyoroti pentingnya pengelolaan serta pelaporan data ekonomi daerah yang akurat. BPS berkomitmen memperkuat koordinasi dan memberikan pelatihan bagi petugas data di setiap perangkat daerah agar pencatatan lebih valid dan sesuai standar nasional.

Validitas data menjadi fondasi utama dalam penyusunan kebijakan pembangunan. Semua transaksi dan data ekonomi harus terekam dengan baik. “Data yang akurat akan menghasilkan kebijakan yang tepat sasaran,” katanya.