Nasional

Kemarau dan Awal Musim Hujan, BNPB Persiap Peralatan Komunikasi

2
×

Kemarau dan Awal Musim Hujan, BNPB Persiap Peralatan Komunikasi

Sebarkan artikel ini

IWOSUMBAR.COM, JAKARTA – Untuk menghadapi musim puncak kemarau dan awal musim penghujan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan mengadakan kegiatan Gelar Kesiapan Peralatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada Senin (16/8) di Gudang Logistik BNPB, di Sentul, Jawa Barat.

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus. Dampaknya, bencana hidrometeorologi kering seperti kebakaran hutan dan lahan akan mengalami kenaikan angka kejadian.

Dalam kegiatan ada lima perangkat TIK yang dipersiapkan antara lain Mobil Komunikasi Satelit (Komob), Fly Away, ACU 1000, Radio Codan, dan eLTE Rapid System. Fungsi dari teknologi tersebut antara lain untuk menyediakan koneksi internet, radio komunikasi, dan interkoneksi perangkat komunikasi.

Baca Juga  BMKG Sumbar Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Beberapa teknologi tersebut sudah tersebar ke daerah, salah satunya Mobil Komunikasi Satelit. Dan Mobil tersebut sudah tersedia di seluruh 34 BPBD tingkat provinsi di Indonesia.

Selain itu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas dan melatih kesiapan sumber daya manusia atau personil yang akan bertugas mengoperasikan peralatan TIK tersebut dalam misi penanggulangan bencana.

Abdul Muhari, Ph.D.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, mengatakan bahwa, teknologi komunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam penyampaian informasi bencana, dimana jaringan komunikasi sering kali terputus.

Baca Juga  PON XXI Aceh-Sumut, Indosat Perkenalkan Inovasi Mobile Selling

“Dibutuhkan teknologi yang memadai, cepat, dan tepat serta pelibatan berbagai pihak terkait,”.

Teknologi Informasi dan Komunikasi ini diharapkan dapat digunakan dan diimplementasikan untuk mempercepat penanganan tanggap darurat bencana.

“Salah satunya untuk mengirimkan data dan situasi riil di lapangan,” ujarnya.