Nasional

Sebelum Mengambil Student Loans di Amerika, Ayo Kenali Dulu Dampak Negatifnya

14
×

Sebelum Mengambil Student Loans di Amerika, Ayo Kenali Dulu Dampak Negatifnya

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072
Gambar Mahasiswa di lingkungan kampus (Sumber: www.pinterest.com)

PADANG – Pinjaman mahasiswa atau student loans yang ada di Amerika bertujuan untuk memudahkan para pelajar yang memiliki latar belakang ekonomi rendah untuk dapat merasakan pendidikan tinggi seperti kuliah.

Walaupun hal tersebut terdengar memiliki dampak positif,, sebenarnya terdapat beberapa dampak negatif yang membuat kita harus mempertimbangkan lagi untuk mengambil kesempatan itu atau tidak. Di bawah ini dijelaskan dampak utama pinjaman tersebut, dilanjutkan dengan tiga pandangan mahasiswa yang memiliki rencana kuliah di Amerika tetapi memutuskan untuk tidak meminjam karena merasa risikonya terlalu besar. Dampak negatif utama Beban finansial jangka panjang.

Karena kita mengambil pinjaman atau bahasa kasarnya utang, hal ini mengharuskan kita untuk menyicil angsuran setiap bulan, yang dimana angsuran tersebut terdiri dari pinjaman pokok dan bunga. Bunga ini lah yang memberatkan bagi pelajar, dan Jika kita meminjam di Swasta, biasanya bunganya lebih besar daripada meminjam di Pemerintah. Hal tersebut menyebabkan banyak lulusan yang baru dapat melunasi pinjaman pelajarnya di usia tua.

GANGGUAN KESEHATAN MENTAL

Karena dihantui utang atau pinjaman yang belum lunas banyak pelajar yang mengalami gangguan mental seperti depresi, hal ini dapat mempengaruhi produktivitas kerja dan jenjang karier pelajar.

Baca Juga  Update Cov-19, Positif 35.764 Total 3.568.331, Wafat 1.739 Total 102.375

PENUNDAAN TONGGAK KEHIDUPAN.

Di zaman sekarang dimana ekonomi dan finansial rawan ketidakstabilan apalagi bagi pelajar yang baru lulus kuliah dan memiliki cicilan student loans, Hal tersebut dapat menghambat beberapa langkah masa depan seperti memunda pernikahan, pembelian rumah, atau rencana keluarga. Memperbesar ketimpangan sosial -ekonomi.

Pelajar yang berasal dari kelompok ekonomi rendah cenderung lebih bergantung pada pinjaman dan menghadapi kesulitan terbesar dalam pengembalian. Pola ini memperdalam jurang ekonomi antar kelompok dan menghambat mobilitas sosial.
Mengapa sebagian mahasiswa memilih tidak mengambil pinjaman tersebut. (Ket photo: Gambar Mahasiswa (Sumber: www.pinterest.com)

Tidak semua mahasiswa berani mengambil risiko pinjaman pendidikan. Beberapa mahasiswa yang ingin melanjutkan kuliahnya ke Amerika di antaranya memilih mencari alternatif karena khawatir terhadap dampaknya di masa depan.

“Untuk saya pribadi, mengambil pinjaman pelajar adalah hal yang sangat mustahil saya lakukan karena saya takut terjebak utang dan tidak dapat menggantinya kembali” ujar Nayla Khairunnisa (24/9/2025), mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Andalas.

Ia menilai bahwa tekanan finansial semacam itu dapat mengganggu fokus belajar dan menimbulkan stres berkepanjangan. Fidela Marsha, mahasiswa Tata Rias dan Kecantikan di Universitas Padang, mengatakan bahwa ia lebih memilih menunda kuliah dan bekerja dulu untuk menabung.

Baca Juga  Ekonomi Prabowo: Mustahil Tumbuh 8persen Tanpa Industrialisasi

“Lebih baik saya menunggu satu atau dua tahun, bekerja sambil mengumpulkan biaya sendiri. Setidaknya saya tidak harus hidup di bawah bayang-bayang cicilan waktu belajar di Amerika” ujarnya (25/9/2025).

Sementara itu, Putri Sanggar Fika mahasiswa D3 Perbankan di Universitas Andalas, berpendapat bahwa beban psikologis dari utang bisa berdampak panjang.

“Saya takut kalau pinjaman itu nantinya malah membuat saya tidak bisa tidur nyenyak, apalagi kalau saya tidak segera dapat pekerjaan setelah lulus, lebih baik kita mencari peluang beasiswa yang dari Pemerintah saja” tuturnya (25/9/2025).

Kesimpulan Jika tidak siap menghadapi dampak negatifnya, beberapa alternatif yang dapat dipertimbangkan antara lain: mencari beasiswa Pemerintah ataupun non-Pemerintah, mempertimbangkan kuliah di tempat yang biaya hidupnya lebih terjangkau, serta meningkatkan informasi dan literasi keuangan agar dapat membuat keputusan yang matang sebelum berutang.

Oleh: Fatiya Salsabila Khairani (Mahasiswa Sastra Inggris, Universitas Andalas).