Oleh : Fadel Alfario Pasha (Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Andalas)
PADANG- Kedai DON, sebuah usaha kecil milik Pak Edward, telah berdiri sejak lebih dari lima belas tahun lalu di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar. Kedai ini menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak goreng, jajanan anak, hingga perlengkapan rumah tangga.
Dengan harga yang terjangkau, kedai tersebut menjadi solusi belanja warga sekitar yang tidak ingin repot ke pasar atau minimarket. Bagi keluarga pemiliknya, usaha ini menjadi sumber penghasilan utama. Meski dijalankan secara sederhana, Kedai DON tetap bertahan berkat pelayanan ramah dan kepercayaan pelanggan setia yang telah terbina sejak awal.
Awalnya, Kedai DON hanya bermula dari sebuah meja kayu kecil di teras rumah Pak Edward. Dengan modal tabungan seadanya, ia mulai menjual beberapa barang kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, dan telur. Lambat laun, pelanggan mulai bertambah karena lokasi kedai yang strategis di tengah pemukiman warga Nagari Aie Angek. Melihat peluang itu, Pak Edward menambah rak kayu dan memperluas variasi barang, termasuk jajanan anak, minuman ringan, hingga perlengkapan rumah tangga sederhana. (Ket photo: Bagian dalam Kedai DON yang dipenuhi berbagai kebutuhan pokok dan jajanan anak)
Ketersediaan barang sehari-hari membuat kedai ini jadi andalan warga sekitar. Setiap hari, aktivitas di Kedai DON dimulai sejak pagi buta. Pukul enam pagi, Pak Edward dan istrinya sudah membuka kedai untuk melayani warga yang membutuhkan belanja cepat sebelum berangkat kerja.
Suasana pagi di kedai cukup ramai, terutama para ibu rumah tangga yang membeli sayur, bumbu dapur, atau sekadar jajanan untuk bekal anak sekolah. Siang hingga sore hari, kedai tetap buka, melayani pembeli dari berbagai kalangan. Bahkan hingga malam hari, kedai sering menjadi tempat singgah warga yang baru pulang kerja dan butuh barang mendadak.
“Kalau ada pelanggan datang tengah malam sekalipun, kadang kami tetap buka, apalagi kalau memang kebutuhannya mendesak. Sudah seperti keluarga sendiri, jadi rasanya tidak tega kalau mereka harus repot mencari ke tempat lain,” kata Pak Edward sambil tersenyum.
Pendapatan harian dari Kedai DON memang tidak selalu besar, tetapi cukup stabil. Hasil usaha digunakan untuk membiayai kebutuhan rumah tangga, membayar listrik, hingga biaya pendidikan anak. Bagi keluarga Pak Edward, kedai kecil ini adalah tulang punggung yang memberi harapan dan kemandirian. (Ket photo: Tidak hanya menjual kebutuhan pokok, Kedai DON juga menyediakan sayuran segar yang memudahkan warga Nagari Aie Angek memenuhi kebutuhan harian mereka)
Selain bermanfaat bagi keluarga, kedai ini juga mempermudah masyarakat sekitar. Banyak warga Nagari Aie Angek mengaku lebih nyaman berbelanja di Kedai DON daripada harus pergi ke pasar di kota terdekat atau minimarket di pinggir jalan raya. Faktor kedekatan lokasi, harga yang bersahabat, serta pelayanan ramah menjadi alasan utama.
“Kami sering belanja di Kedai DON karena lebih praktis. Kalau butuh minyak goreng atau telur, tinggal jalan sebentar saja, tidak perlu naik motor ke minimarket,” kata salah seorang pelanggan tetap.
Meski memberikan banyak manfaat, usaha kecil ini juga menghadapi tantangan. Persaingan dengan minimarket modern yang mulai merambah wilayah Tanah Datar menjadi kendala utama. Minimarket menawarkan variasi produk yang lebih lengkap, tempat lebih luas, dan promosi diskon.
Selain itu, keterbatasan modal membuat Kedai DON tidak bisa menambah stok barang dalam jumlah besar. Pak Edward menyadari hal itu. “Kami tidak bisa menyaingi toko modern. Tapi kami percaya, kalau kami tetap menjaga kepercayaan pelanggan, mereka akan kembali,” ujarnya.
Tantangan lain datang dari perkembangan teknologi. Banyak UMKM di kota besar sudah memanfaatkan media sosial dan marketplace. Sementara Kedai DON masih mengandalkan penjualan langsung. Meski begitu, langkah kecil sudah mulai dilakukan, seperti menerima pesanan melalui telepon atau WhatsApp.
Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM di Indonesia mencapai lebih dari 60 juta unit dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja. Kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga mencapai lebih dari 60%. Angka ini membuktikan bahwa UMKM adalah pilar penting ekonomi nasional.
Kedai kecil seperti Kedai DON di Tanah Datar, meski tampak sederhana, sesungguhnya bagian dari kekuatan besar yang menopang ekonomi Indonesia.
Selain itu, pemerintah melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pelatihan literasi digital terus berupaya memperkuat UMKM.
Harapannya, usaha seperti Kedai DON bisa berkembang, tidak hanya mengandalkan pelanggan tetap, tetapi juga memperluas pasar melalui penjualan online. Bagi Pak Edward, kesempatan itu bisa menjadi peluang besar untuk meningkatkan pendapatan sekaligus memperbaiki kesejahteraan keluarganya.
Pak Edward optimis dengan masa depan kedainya. “Kalau ada dukungan yang jelas, seperti pelatihan atau tambahan modal, kami bisa menambah produk dan memperluas usaha,” ungkapnya.
Optimisme ini menjadi cerminan semangat para pelaku UMKM di berbagai nagari di Tanah Datar.
Kisah Kedai DON hanyalah satu dari ribuan kisah UMKM serupa yang tersebar di Sumatera Barat. Di tengah gempuran toko modern, kedai tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Keberadaannya tidak hanya memberi manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat jalinan sosial dan budaya gotong royong di nagari.
Kedai DON di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar membuktikan bahwa usaha kecil bisa memberi dampak besar. Dari memenuhi kebutuhan warga hingga menyokong ekonomi keluarga, kedai ini telah menjalankan peran pentingnya sebagai bagian dari UMKM.
Dengan inovasi, dukungan, dan semangat pantang menyerah, usaha kecil seperti Kedai DON akan tetap relevan dan menjadi penopang ekonomi masyarakat lokal sekaligus bagian dari ketahanan ekonomi bangsa.





