IWOSUMBAR.COM, JAKARTA -Pertemuan istimewa terjadi akhir pekan lalu di Pondok Pesantren Al Bahjah (8/5). Vokalis DMASIV, Rian Ekky Pradipta, akhirnya bisa bertatap muka langsung dengan Buya Yahya, sosok ulama yang selama ini hanya ia saksikan melalui layar ponsel.
“Selama ini saya cuma lihat Buya dari YouTube. Rasanya pengen banget ketemu langsung. Alhamdulillah, hari ini kesampaian,” ujar Rian.
Namun, pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi. Rian dan Buya Yahya berdialog mengenai kemungkinan kolaborasi seni dan dakwah, khususnya bagaimana musik bisa menjadi medium penyebar nilai spiritual dan kemanusiaan.
DMASIV, lewat lagu “Jangan Menyerah”, telah lama menyentuh hati banyak orang lintas latar belakang. Lagu yang dirilis pada 2009 itu bahkan menjadi penguat bagi pasien kemoterapi, hingga rujukan makna spiritual oleh tokoh agama di Bali. Pengaruh lagu tersebut mendorong lahirnya Yayasan Jangan Menyerah, yang fokus pada bantuan medis, pembangunan masjid, dan pendidikan.
“Musik itu soft power. Lagu bisa jadi penyembuh, jadi penggerak,” ujar Rian. Ia pun membuka wacana dakwah lewat seni, salah satunya dengan membedah lirik lagu sebagai media refleksi spiritual.
Buya Yahya menyambut baik inisiatif itu. “Kalau orang punya potensi, kami ingin dari potensi itu lahir manfaat untuk perjuangan kemanusiaan,” tuturnya. Ia menegaskan bahwa pertemuan dengan musisi seperti DMASIV merupakan bagian dari misi menyebarkan kebermanfaatan.
CEO Jagat Ideascape, Agus Rosyidi, yang turut hadir, melihat pertemuan ini sebagai awal kolaborasi antara seni, dakwah, dan teknologi. Jagat Ideascape sendiri aktif mengembangkan konten digital bernilai tinggi dengan menggandeng para ulama untuk menghadirkan pesan-pesan inspiratif yang kontekstual.
“DMASIV dan Buya Yahya kini seirama dalam misi, menjadikan seni bukan sekadar hiburan, tetapi jalan memuliakan kehidupan,” pungkas Agus.





