Peristiwa

UNGKAP CARA PEMASARAN KEDAI / GROSIR HARIAN AUFAA

1
×

UNGKAP CARA PEMASARAN KEDAI / GROSIR HARIAN AUFAA

Sebarkan artikel ini

(Ket Poto: Gambar kedai harian aufaa 1.2
https://maps.app.goo.gl/H4sd5LCuZeWZy9G1A?g_st=com.google.maps.preview.copy)

PADANG- Grosir merupakan salah satu modal bisnis yang berperan penting dalam rantai distribusi barang khususnya di sektor perdagangan mulai dari menjual makanan dan minuman bahan pokok dan produk kebersihan, grosiran berfokus pada penjualan barang dalam jumlah besar kepada pengecer atau konsumen yang membeli untuk dijual kembali.

Grosiran ini berbeda dari eceran yang menjual produk dalam jumlah yang kecil, grosiran biasanya menawarkan harga yang lebih rendah per unit dibandingkan dengan pembelian eceran, karna pembelian ini dilaukan dalam jumlah yang besar. Kedai harian Aufa adalah salah satu grosir atau kedai yang terletak di jorong batu balah nagari gunung malintang kecamatan pangkalan koto Baru kabupaten Lima puluh kota, Sumatera barat.

Bisnis ini dimiliki oleh ibu Repi Susilawati dan dikelola bersama suami dan anaknya. Kedai harian Aufaa beroperasi pertama kali tahun 2007, dahulunya warung ini hanya warung biasa yang berukuran 3×4 yang terletak dipinggiran sungai yang menjual barang harian yang didapatkan dari akikah anaknya yang awalnya bermodalkan Rp300.000 menjualkan produk yang belum banyak, dikarenakan warung yang berada di dekat sungai yang sering terkena banjir, pada tahun 2014 berpindah tempat ke yang lebih besar dengan ukuran 10×13 dan seiring berjalannya waktu warung yang biasannya beromset Rp7.000.000 ini bertambah menjadi 100.000.000 perminggu dan warung ibu repi saat ini berubah menjadi grosir.

Keputusan bisnis ini dibuka karena banyak nya sembako yang didapatkan oleh ibu repi pada saat akikahan anaknya. Suami dari ibu Repi hanyalah seorang pekerja honorer jadi gaji yang diperoleh dari pekerjaan tersebut tidak dapat mencukupi biaya kehidupan sehari-hari, oleh karena itu ibu Repi memilih untuk membuka warung usaha kecil-kecilannya dengan modal awal 300.000 dan juga meminjam kepada saudara ibu repi sebanyak 15 juta yang dipergunakan untuk membeli transportasi untuk berjualan ke pasar pekan.

Baca Juga  Motif Batik Jeruji Jadi icon Filosofi keren dalam Peragaan Busana di HUT PIPAS Ke-21

“Pada saat pertama kali ibu repi berjualan di pasar ibuk repi tidak hanya menjual sembako saja melainkan ibuk repi menjual bika dan lamang yang dijualkan dipasar”,. Alasan ibu Repi memilih membuka usaha ini karena lokasi yang cukup strategis bersebelahan dengan puskesmas pembantu dan wali nagari.

Tidak banyak pesaing dan melihat adanya peluang yang bagus untuk membuka usaha di sina.

“Saya biasanya melakukan perdagangan ke pasar atau pekan yaitu pada hari Jumat dan Minggu selain itu di hari-hari biasa saya hanya berjualan di kedai rumah saja lalu untuk pembelian barang kembali biasanya pada sales-sales yang mengantarkannya ke kedai atau ke warung atau grosiran dan juga pergi membeli di toko yang bernama jaya subur yang merupakan langganan saya membeli barang yang terletak di Kota Payakumbuh” ujar ibu Repi.

Lantas bagaimana strategi yang dilakukan ibu Repi dalam mengelola grosir kedai harian aufaa agar tetap stabil dalam memenuhi kebutuhan dan kewajiban bisnisnya ibu Repi?

Selain ada grosir ibu Repi juga memiliki kemampuan memasak oleh karena itu ibu Repi menjual makanan seperti kue risoles, donat, kue ulang tahun dan banyak makanan lainnya.

Baca Juga  KI Sumbar Luncurkan e-Monev

Karena dengan berkembangnya teknologi ibu repi memasarkan masakan tersebut di sosial media seperti instagram, facebook dan juga whatsapp dan juga pelanggan bisa membeli langsung ke kedai harian Aufa.

Menurut salah satu pelanggan yang bernama tipah “kedai harian aufaa sangat lengkap menyediakan berbagai kebutuhan rumah seperti sembako dll, saya juga merasa pelayanannya nyaman dan ibu repi sang pemilik pun ramah” ucap tipah.

Dan menurut pelanggan lainnya yang bernama ibu yanti “kedai harian aufaa memiliki tempat yang bersih dan juga harga yang terupdate setiap minggunya” ucap ibu yanti.

Pada saat corona, karna masyarakat sangat memelukan barang harian yang dijualkan ibuk repi omset ibuk repi tidak berkurang dari biasanya suami ibuk repi yang seorang guru yang hanya mengajar dari jarak jauh berpikiran untuk berternak suami ibuk repi awalnya hanya berternak kambing lalu seiring meningkat nya modal yang didapatkan suami ibuk repi saat ini suami ibuk repi juga berternak sapi yang juga dijualkan pada saat adanya akikah atau juga saat lebaran idul adha

Uniknya Karena ibu repi tinggal di desa yang banyak perkebunan, ibu repi juga menyediakan barang barang yang bisa dibawa oleh warga warga disana untuk keperluan berkebunnya. Masyarakat hanya membeli keperluan seminggu sekali dikarenakan petani akan bermalam dikebun gambirnya.

Padang,26 September 2024. Oleh: Ressya Faolingga (Mahasiswa departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis)