(Ket Poto: FBS UNP Laksanakan PKM di SMA 1 Harau Diikuti 73 Guru)
IWOSUMBAR.COM, PADANG- SMA 1 Harau menjadi tuan rumah Pelatihan Pembuatan Modul Ajar Kurikulum Merdeka Berbasis Pembelajaran Berdiferensiasi yang diikuti oleh 73 guru dari berbagai mata pelajaran.
Pelatihan ini diselenggarakan oleh Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP).
Tujuan dari acara ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada para guru dalam menyusun modul ajar yang sesuai dengan Kurikulum Merdeka, yang saat ini diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia.
Dalam sambutannya, Kepala Sekolah SMA 1 Harau, Drs. Hafrizal mengucapkan terima kasih kepada Tim PKM atas pemilihan SMA 1 Harau sebagai tempat pelaksanaan pelatihan.
Drs. Hafrizal menilai materi pelatihan sangat relevan dan diperlukan para guru dalam menghadapi tantangan implementasi Kurikulum Merdeka.
“Semoga kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di SMA 1 Harau”, harap dia.
Tim PKM yang memimpin pelatihan terdiri dari Prof. Dr. Syahrul R., M.Pd., sebagai Ketua Tim, bersama anggota Dr. Yenni Hayati, M.Hum., Yulianti Rasyid, M.Pd., dan Ayu Gustia Ningsih, M.Pd., yang merupakan akademisi berpengalaman dari UNP dalam penerapan Kurikulum Merdeka dan pembelajaran berdiferensiasi.
Dalam presentasinya, Dr. Yenni Hayati, M.Hum., menekankan pentingnya pemahaman mendalam tentang karakter peserta didik dalam menyusun modul ajar.
“Pemahaman karakteristik unik setiap siswa adalah dasar untuk membuat modul ajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujarnya. Tanpa pemahaman ini, guru akan kesulitan menciptakan pembelajaran yang efektif dan bermakna.
Yulianti Rasyid, M.Pd., menyoroti bahwa pembelajaran berdiferensiasi mengharuskan guru untuk lebih aktif dan kreatif.
“Dalam pendekatan ini, guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa belajar sesuai dengan ritme dan gaya belajar masing-masing,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa guru harus terus beradaptasi dan berinovasi untuk memenuhi kebutuhan belajar yang beragam di dalam kelas.
Ayu Gustia Ningsih, M.Pd., menggarisbawahi peran besar guru dalam menentukan kesuksesan siswa di masa depan. Beliau mengutip pesan bijak Engku Safei, “Jangan meminta buah mangga pada batang rambutan, tapi jadikanlah setiap buah itu terasa manis,” yang menggambarkan filosofi pembelajaran berdiferensiasi yang menghargai perbedaan siswa dan mengembangkan potensi unik setiap individu.
Salah satu peserta, Mulyati, guru di SMA 1 Harau, mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan banyak wawasan baru.
“Saya merasa lebih siap menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, terutama setelah memahami pentingnya menyesuaikan modul ajar dengan karakter siswa,” ujarnya. Dan berharap ilmu yang diperoleh dapat membantu siswanya mencapai potensi terbaik. (**)





