IWOSUMBAR.COM, PADANG – BUYA Hamka mulai tertarik dengan hal-hal terkait keagamaan sejak berada di Sekolah Dasar. Ia sering ikut dalam berbagai kegiatan seperti pengajian dan mempelajari kitab kuning di beberapa tempat yang ada tak jauh dari rumahnya.
Buya Hamka merupakan modernis tulen. Perjalanan dalam perjuangannya dimulai di Masyumi dan Muhammadiyah yang memiliki semangat modernisasi Islam.
Ia beranggapan jika ilmu pengetahuan itu adalah sesuatu yang netral. Pemikirannya tersebut membuatnya menganggap kalau ilmu pengetahuan dari barat pun bisa disesuaikan dengan ajaran Islam.
Ketegasan yang dimiliki Buya Hamka sangat terlihat saat ia menjabat sebagai Ketua MUI yang pertama dan mengeluarkan sebuah fatwa, tentang haramnya umat Islam merayakan Natal bersama.
Fatwa tersebut bahkan masih sering diperdebatkan sampai hari ini. Tetapi karena ketegasannya, ia menolak jika diminta harus menganulir fatwa tersebut.
Buya Hamka rela mundur dari jabatannya pada tahun 1981 karena ia merasa ditekan oleh Alamsyah Ratu Perwiranegara, Menteri Agama pada saat itu. Ia ditekan untuk menganulir fatwa yang ia keluarkan. (*)





