IWOSUMBAR.COM, BATUSANGKAR – Wakil Gubernur Audy Joinaldy mengatakan peran Pemerintah dalam memberdayakan masyarakat di Era 5.0 dengan mempertahankan kearifan lokal perlu mengenalkan peran Society 5.0 pada kehidupan sehari-hari dengan istilah “Social Cyber System and Machine Learning in Era Society 5.0”.
Disampaikan Wagub pada acara Webiner Musyawarah Luar Biasa Forum Komunikasi Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam (Forkommasi) se Sumatera Barat di Auditorium Kampus II IAIN Batusangkar, pada Jum’at (2/7/2021).
“Kita dikejutkan saat Pemerintah Jepang Tahun 2019 memperkenalkan Era 5.0 atau super smart society, dibuat sebagai solusi dan tanggapan dari revolusi industri 4.0 dan dianggap akan menimbulkan degradasi manusia,” kata Audy Joinaldy.
Orang nomor dua di Sumbar yang juga “Milenial Minang” ini menjelaskan bahwa dalam kegiatan ini masyarakat di dorong untuk dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi industri 4.0.
Dikatakan, Ada tiga hal ditandai dengan akan hadirnya Era Society 5.0, yaitu :
1. Munculnya bisnis baru yang strategi yang lebih inovatif dan Intangible Assets (aset tak berwujud fisik) yang bisa diperjual belikan, seperti aplikasi online.
2. Muncul profesi profesi baru yang sebelumnya dengan berbasis Internet of Thins (IoT), Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dan robotika untuk bisa bersaing.
3. Solusi menghasilkan produk unggul yang menghasilkan produk dengan memanfaatkan teknologi menggunakan tenaga kerja yang handal dalam IoT.
“Society 5.0 ialah masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi industri 4.0 seperti Internet on Things (IoT), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar), dan robot untuk meningkatkan kualitas hidup manusia,” jelasnya.
Untuk mengatasi itu, tentunya ada tiga kemampuan utama dalam menghadapi society 5.0 yaitu, yang pertama kemampuan memecahkan masalah kompleks dan dapat menjadi problem solver bagi dirinya serta orang banyak.
Kedua kemampuan untuk berpikir secara kritis dan peka terhadap kehidupan sosial, serta yang ketiga Kemampuan untuk berkreativitas berbasis Internet of Things (IoT).
“Generasi muda harus siap menghadapi era Society 5.0 di Indonesia dengan manfaatkan SDM yang ada, karena SDM di Indonesia tidak kalah dengan luar negeri. Society 5.0 sebagai komplemen revolusi Industri 4.0, perlu diarahkan pada generasi muda untuk kemajuan bangsa Indonesia dimasa mendatang,” harapnya.
Menurut pandangannya konsep revolusi revolusi 4.0 dan Society 5.0 tidak memiliki perbedaan yang jauh. Hanya saja konsep Society 5.0 lebih memfokuskan konteks terhadap manusia.
“Nantinya semua langkah kita bisa diketahui melalui JPS, bahkan jarak dan lokasi sudah tidak lagi menjadi kendala, dari segi pengiriman barang, kesehatan, pendidikan, pekerjaan seperti sekarang ini kerja tidak perlu dari kantor (work from home) semua bisa dilakukan secara jarak jauh dari rumah tanpa harus bertemu secara fisik,” tambahnya.
Sementara, Rektor IAIN Batusangkar, Dr. Marjoni Imamora, M.Sc menyampaikan, bahwa revolusi industri 4.0 menggunakan kecerdasan buatan sebagai komponen utama dan Society 5.0 menggunakan teknologi modern dan mengandalkan manusia sebagai komponen utamanya.
“Jika segala kecanggihan teknologi tidak akan membawa manfaat apabila manusia sebagai pengguna tidak dapat mengoperasikannya. Manusia tidak cukup hanya sebatas memahami atau diberikan sebuah sebuah teori saja, harus berpikir kritis, kreatif dan konstruktif,” ujar Marjoni. (rel-adpim)





