IWOSUMBAR.COM, PADANG – SEJARAH tak boleh dilupakan. Sejarah adalah pembelajaran dan sebagai cermin dari masa lalu untuk direfleksikan ke masa depan. Bangsa dan puak manapun yang ingin terjaga dari tidurnya ia harus menggerakkan memori sejarahnya.
KEHANCURAN SEBUAH PERADABAN ADALAH PEMBELAJARAN
Sejarah mencatat Pada 03 March 1946 tepat jam 12 malam, adalah sejarah hitam dalam dunia Puak Melayu. Dimana terhapusnya banyak Kesultanan.
Orang bijak akan menarik berbagai kesimpulan dari peristiwa sejarah untuk kembali menegakkan bangunan masyarakat yang lebih baik dan kembali membangun peradaban baru.
Harus dicatat Melayu identik dengan Islam yang dibangun berdasarkan sendir-sendi Al Qur’an dan Hadits.
Itu sebabnya di Kesultanan Melayu, Masjid dibangun lebih indah dari Istana Sultan. Adab, akhlak, tata kerama, sopan santun, dan bahasa yang santun dan lemah lembut serta cara makan dan berpakaian diajarkan. Sekolah-sekolah dan madrasah dibangun dan digalakkan. Kadhi-kadhi memutus dengan Syari’at Islam.
SEJARAH TAK BOLEH DILUPAKAN
Sejarah mencatat, kekejaman dan keberutalan dan tindakan liar yang dilakukan oleh kelompok masyarakat yang menamakan dirinya Pro-Revolusioner, kelompok republiken pada Maret 1946 yang menghancurkan sendi-sendi peradaban Puak Melayu di Sumatera Timur.
Belum enam bulan sejak Sultan Deli menyampaikan dukungannya kepada Negara Republik Indonesia bersama dengan Raja-Raja se-Sumatera pada tanggal 23-25 Desember 1945 di Padang Panjang, Para pemuda yang tergabung dari unsur PKI, melancarkan aksinya menghabisi para Sultan dan kerabatnya di Sumatera Timur.
Gerakan pembantaian itu berlangsung singkat, hanya 17 hari. Mulai tanggal 3 Maret sampai 20 Maret 1946.
Para penulis sejarah menyebut bahwa peristiwa itu sebagai revolusi sosial. Namun penulis lain ada yang mengatakan itu bukan revolusi sosial, tapi pembantaian etnik.
Raja-raja Melayu Indonesia dibunuh serentak dalam satu hari oleh pengkhianat yang bersembunyi disebalik slogan ”DAULAT RAKYAT” yang mana saat itu menyaksikan punahnya jatidiri Melayu disana.
AL-FATIHAH Kepada Raja-Raja Melayu. Kesultanan Melayu Deli, anaknya Mambang Yazid, Mambang Khayali, Putri Hijau.
Kesultanan Melayu Serdang. Kesultanan Melayu Langkat. Kesultanan Melayu Bulungan. Kesultanan Kualuh. Kesultanan Asahan dan Kerajaan Simalungun serta Kerajaan Tanah Karo. (*)





