IWOSUMBAR.COM, PADANG – DISKUSI sesi kedua Sumbar Digital Conference (SDC) digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di Premiere Hotel (6/10) Menghadirkan 4 narasumber yaitu, Ketua Bawaslu Sumbar Alni, Direktur PuSako Unand Charles Simabura, Peneliti Perludem Fadli Ramadhanil dan Akademisi UIN Imam Bonjol Dr Abdullah Khusairi.
Dikesempatan Ketua Bawaslu, Alni menyampaikan berita hoax acap terjadi saat gelaran Pemilu. Berbagai macam hoax akan berseliweran di dunia maya hanya untuk menjatuhkan lawan.
“Biasanya kandidat diserang dengan pemberitaan yang tidak pernah dilakukan kroscek kebenarannya kepada orang atau pihak lain yang berkompeten, tidak diuji kebenarannya namun langsung diterbitkan,” kata Alni.
Namun adanya kemungkinan jika ada kandidat yang membangun citra positif dengan menyebarkan hoax, calon mengklaim dirinya hebat, baik dari sisi prestasi maupun dukungan politik.
Alni mengungkapkan untuk mengatasi ancaman hoax ini, Bawaslu Sumbar akan menyebarkan informasi melalui media sosial resmi, Web PPID, serta konferensi pers langsung pada media.
Sedangkan Charles Simabura mengungkapkan penyebaran hoax lebih mudah melalui media sosial (Medsos) karena mudah diakses oleh masyarakat.
“Tahun 2023, dari 664 berita hoax yang beredar, sebanyak 223 berita hoax mengarah kepada politik,” ungkap Charles.
“Karena itu kita butuh pendidikan dan literasi digital yang baik bagi masyarakat agar persekusi tidak menjadi pilihan utama untuk menangani hoax,” jelasnya.
Sementara, Peneliti Perludem Fadli Ramadhanil menilai penyebaran hoax menjelang Pemilu justru akan mempengaruhi hak pilih warga negara, baik terhadap penyelenggara pemilu maupun peserta pemilu.
“Penyebaran hoax ini menjadi ancaman yang menyesatkan persepi pemilih dan menghancurkan kredibilitas peserta pemilu dan menjatuhkan integritas penyelenggara pemilu,” terang Fadli.
Menurut Fadli, cara efektif meminimalisir berita hoax yakni dengan menghasilkan konten kebenaran lebih banyak daripada konten hoax.
Berbeda lagi, Akademisi UIN IB Abdullah Khusairi mengatakan ancaman hoax ini perlu disikapi dengan memproduksi berita yang memiliki kebenaran aktual bagi media.
Selain itu katanya, media harus membuktikan bahwa medianya layak dan dapat dipercaya untuk dijadikan sumber informasi.
“Harapan kita seiring dengan kemajuan zaman, masyarakat akan lebih cerdas dalam memilah berita yang ada di media sosial, ” (**)





