IWOSUMBAR.COM, BUKITTINGGI – USAI agenda Rapat Kerja Nasional, para rombongan Forum Sekretaris Daerah Seluruh Indonesia (Forsesdasi) melaksanakan City Tour ke Padang Panjang dan kota Bukittinggi.
Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Hansastri, Ak., M.M., CFrA menyampaikan, bahwa tujuan kunjungan kedua daerah ini untuk memperkenalkan daerah pariwisata yang diminati wisatawan ke Sumbar.
Seperti Rumah Gadang PDIKM di Padang Panjang yang merupakan objek wisata budaya Minangkabau sebagai pusat dokumentasi dan informasi kebudayaan .
“Di dalam Museum Rumah Gadang tersebut, rombongan Forsesdasi bisa mendapatkan penjelasan budaya Minangkabau dan juga melihat berbagai jenis dokumen dan miniatur bangunan di dalamnya.
Di samping bangunan Museum PDIKM ini terdapat bangunan Balai nan Bapaneh yang biasa digunakan untuk pertunjukan seni. Selain itu rombongan Forsesdasi juga bisa menikmati keindahan taman di sekitar kawasan PDIKM Kota Padang Panjang.
Selanjutnya rombongan City Tour Forsesdasi yang dipimpin Sekda Provinsi Sumbar menuju Bukittinggi untuk mengunjungi Istana Bung Hatta, Jam Gadang, Ngarai Sianok dan Lubang Jepang.
“Kalau ke Sumbar belum lengkap berkunjung ke Bukittinggi,” kata Sekda Hansastri
Sesampai di Bukittinggi, rombongan City Tour Forsesdasi dilayani untuk berkeliling oleh Asisten Administrasi Umum Setda Kota Bukittinggi Drs.
Syafnir menjelaskan kepada rombongan, bahwa Jam Gadang telah dijadikan sebagai objek wisata yang merupakan peninggalan pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Dijelaskan Jam Gadang dibangun pada 1926-1927 atas inisiatif Hendrik Roelof Rookmaaker, sekretaris kota atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi)
“Untuk Jamnya adalah hadiah dari Ratu Belanda Wilhelmina. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazid Rajo Mangkuto dari Koto Gadang, sementara pelaksana pembangunan adalah Haji Moran dengan mandornya St. Gigi Ameh yang merupakan putra Minangkabau,” jelas Syafnir.
Selanjutnya, rombongan melanjutkan ke Lobang Jepang. Disitu rombongan dipandu oleh salah seorang yang mengerti akan sejarah Lobang Jepang bernama Man yang akrab dipanggil Inyiak.
Man Inyiak menjelaskan bagaimana sejarah adanya Lobang Jepang tersebut. Panjang Lobang Jepang mencapai 6 kilometer dan lebarnya sekitar 2 meter. Terowongan ini bisa tembus ke beberapa lokasi, seperti Jam Gadang dan Benteng Fort De Kock.
Dibangun sejak Maret 1942, terowongan ini selesai dikerjakan pada Maret 1944. Kedalamannya sendiri mencapai 49 meter di bawah permukaan tanah dengan memiliki 21 lorong yang tahan letusan bom seberat 500 kilogram.
Pembangunan Lobang Jepang sendiri dilakukan secara paksa yang disebut “Romusha” dengan mendatangkan pekerja dari berbagai daerah, seperti Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi.
Lorong-lorong itu ada yang digunakan sebagai ruang amunisi, ruang pertemuan, ruang pelarian, ruang penyergapan, hingga penjara, bahkan lorong sebagai dapur, kononnya meruoakan tempat memutilasi tahanan yang tewas untuk memudahkan saat dibuang ke lubang air di bawah jurang Ngarai Sianok.
“Untuk keperluan wisata, Lobang Jepang dibuka hanya 1,5 kilometer, membutuhkan waktu 20 menit untuk menyusurinya,” katanya .
Sekda Morolawali Utara Musda Guntur mengatakan Lobang Jepang ini layak dikenang. Lobang Jepang wisata bersejarah yang paling menakjub sebagai pengingat sejarah.
“Keren.. Kita masuk sudah ada yang menjelaskan. Ini bisa menjadi pelajaran dari kenangan kelam dimasa penjajahan Jepang sebelum berkibarnya Sang Saka Merah Putih sebagai simbol negara Indonesia,” ungkap Musda.
“Ini bisa menjadi contoh bagi kita semua, bagaimana pengorbanan dan perjuangan untuk pemersatu bangsa Indonesia,” terangnya.
Lain lagi dengan Sekda Maluku Tenggara, Drs. Ahmad Yani Rahawarin, M.Si, mengatakan sangat puas dwngan kunjungan ke Bukittinggi dan Padang panjang.
Rombongan Forsesdasi hampir 50 orang ini mengaku puas dan membawa oleh oleh khas Sumbar dengan penuh kebahagian untuk diceritakan kepada masyarakat dimana asal daerah mereka masing masing. (**)





